Puisi Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta - Agung Firdausi Ahsan

Puisi Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Poster Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Film ini menceritakan tentang Fikri, Laju hidup dan kehidupan Fikri seorang seniman pasir. Hidupnya sungguh penuh liku yang kadang begitu dramatis dan menguras kekuatan hidup.

Sebagai bukti cinta-Nya atas kejernihan spiritual dan kepekaan rasa kemanusiaan Fikri yang demikian menonjol, Allah terus mengujinya dengan banyak cara. Dan, dialah manusia tegar yang tidak pernah putus asa! Dia jugalah sosok lelaki yang layak dicintai siapa pun, terutama para perempuan! Dan Fikri harus memilih satu dari sekian yang pernah menyentuh hatinya.

Konflik semakin deras ketika ia mendengar Leni tidak bahagia dengan pernikahannya. Ketika Lidya yang sangat mengagumi Fikri semakin putus asa dengan kehidupannya. Dan ketika ada wanita lain datang dalam kehidupan Fikri: Shira. Seorang gadis cantik yang pada pertemuan pertamanya dengan Fikri bercadar
(Dikutip dari Wikipedia)


Dibawah ini merupakan beberapa cuplikan puisi yang terdapat dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta :

#Puisi 1 :
Langit masih biru, sejak pertama kali diciptakan sampai sekarang. Embun pun masih terang dan sejuk setiap kali hadir di dedaunan yang selalu merindunya tanpa henti.. Namamu pun rupanya tak mau kalah, masih tetap tersimpan di hati ini sejak waktu mempertemukan.

Akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan. Ruhku bertasbih pada Tuhan semesta alam.. Isyarat cinta kepada-Nya dan kepadamu.

#Puisi 2
 Berkali-kali sudah ku dapati, bahwa rasa begitu menikamku. Memendam ini sangat menyakitkan untukku. Melihatmu aku mampu untuk tersenyum, disaat bersamaan aku mampu untuk terbaring, hening, diam. Luka ini begitu dalam hingga pasir pun tak dapat berkata apapun hingga tangan tak mampu bergerak. Lupa aku apa itu artinya cinta.

Menurut opini saya puisi diatas merupakan puisi teromantis yang pernah saya temui soanya menyangkut Cinta kepada Ilahi dan Makhluknya 

Previous
Next Post »