Upacara Adat Nyadar, Antara 2 Budaya dan 2 Keyakinan - Agung Firdausi Ahsan

Upacara Adat Nyadar, Antara 2 Budaya dan 2 Keyakinan

Saat Pembacaan Doa di Upacara Nyadar
Upacara Adat Nyadar atau disebut juga Nyader oleh penduduk setempat adalah suatu upacara adat yang dilaksanakan oleh Warga Desa Pinggir Papas yang terletak di Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi dan merupakan desa tetangga dengan Nambakor karena sama-sama Desa Penghasil garam untuk daerah Kecamatan Saronggi, tetapi warga pinggir papas lebih mayoritas menjadi petani garam karena letak geografisnya yang terletak di pinggir laut.

Nyadar adalah upacara adat BUKAN RITUAL dimana sebagai ungkapan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pemberiaan berkah khususnya hasil dari panen garam dan rasa terima kasih terhadap leluhur warga Pinggir Papas, Nyadar diadakan di Desa Kebun Dadap Barat Kecamatan Saronggi, disana terdapat sebuas Asta, Pesarean atau Makam leluhur Warga Pinggir Papas yaitu Syeh Anggasuto, Syeh Kabesa, Syeh Dukon, dan Syeh Bengsa dimana diantara beliau adalah orang yang pertama kali menemukan garam dan menemukan cara pembuatan garam.

Menurut sejarah pada masa itu ada pasukan dari Bali yang hendak menyerang Keraton Sumenep tetapi mereka terdesak dan mundur mereka bersembunyi di Desa Pinggir Papas disaat itu Pangeran Anggasuto menyelamatkan mereka dan mereka menetap disana, suatu hari Pangeran Anggasuto bingung karena para Warga Bali tersebut tidak bisa menemukan mata pencaharian atau pekerjaan untuk berlangsungnya hidup disana, maka berdoa Pangeran Anggasuto kemudian beliau berjalan disekitar pantai tiba-tiba dikagetkan oleh ombak yang menyerang beliau sehingga basahlah kaki dan pakaian bagian bawah beliau dan anehnya lagi bekas telapak kaki di pasir pantai dan air ombak yang mengenai kaki dan pakaian beliau tiba-tiba menjadi serbuk putih kemudian Pangeran Anggasuto mengambilnya dan mencium semakin penasaran akhirnya dicicipi dan disaat itu beliau berkata “Accen” dalam bahasa Madura dan dalam Bahasa Indonesia itu adalah Asin maka dinamakanlah Buje atau dalam Bahasa Indonesia adalah garam.

Nyadar diadakan biasanya pada bulan juli dan Agustus tetapi untuk tahun ini nyadar diadakan sehabis lebaran untuk menghormati Hari Raya Idul Fitri, mungkin anda sedikit heran karena diwaktu pelaksanaan Nyadar anda akan menemukan 2 Budaya dari 2 Kepercayaan dan Keyakinan yaitu antara Agama Islam dan Hindu tetapi anda jangan terlalu kaget mengingat nenek moyang Warga Pinggir Papas itu adalah Pasukan Bali yang menetap disana maka ada 2 budaya yang bisa kita rasakan selama pelaksanaan Nyadar, sampai sekarang anda bisa menemukan keturunan dan Budaya Bali yang ada di Pinggir Papas.

Keunikan lagi yaitu masalah tempat pelaksanaan, jika anda pikirkan secara jauh anda akan membayangkan seperti ini ”upacara adat Warga Pinggir Papas tetapi mengapa dilaksanaan di Kebun Dadap ?”
Jawabannya yaitu karena sewaktu Pangeran Anggasuto meninggal beliau sedang berada di Desa Kebun Dadap dan ketika mau diangkat jenasahnya terasa berat dan gagal setelah berkali-kali dicoba maka diputuskanlah oleh Syekh Bengsa, Dukon dan Kabesa untuk dimakamkan disana.

Jika anda tertarik silahkan datang ketika Bulan juni dan Agustus tetapi yang paling meriah jatuh pada Bulan Agustus karena merupakan “Nyadar Panotop” atau Nyadar Penutupan. Jika anda berkunjung ke Nyadar sempatkan menyicipi kuliner khas Nyadar yaitu Rengginang berbagai bentuk dan rasanya manis dan satu lagi yang paling khas yaitu Gettas.

Previous
Next Post »