Renungkan! Manusia Kalah Sama Alat Sekecil Ini



Sering kali kita tidak benar-benar menyadari keberadaan hal-hal kecil di sekitar kita. Ambil contoh kalkulator. Benda sederhana berukuran kira-kira 15 × 10 sentimeter ini mampu melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian dalam waktu kurang dari satu detik, bahkan untuk angka yang sangat besar.

Sekarang, coba kita bandingkan dengan manusia. Untuk menghitung operasi yang sama, kita butuh waktu lebih lama. Jauh berbeda, bukan? Lalu muncul pertanyaan sederhana namun penting: mengapa manusia—pencipta kalkulator—justru kalah cepat dari alat yang ia ciptakan sendiri?

Ironisnya, kalkulator itu tidak berpikir. Ia tidak memahami angka. Ia hanya menjalankan perintah. Sementara manusia dianugerahi sesuatu yang jauh lebih istimewa oleh Tuhan: akal dan pikiran. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh benda apa pun yang kita ciptakan.

Maka persoalannya bukan pada kemampuan manusia yang terbatas, melainkan pada kemauan manusia untuk mengasah potensinya. Kita sering kali puas menyerahkan pekerjaan berpikir kepada alat, alih-alih melatih diri untuk memahami, menganalisis, dan mengembangkan kemampuan kita sendiri.

Sesungguhnya, manusia mampu menyaingi—bahkan melampaui—ciptaannya sendiri. Namun sering kali kita memilih jalan yang lebih mudah: bergantung, bukan berkembang. Padahal, alat diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk menggantikannya.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah manusia bisa lebih unggul dari kalkulator, melainkan: apakah kita mau berusaha menggunakan akal yang telah dianugerahkan kepada kita?

Posting Komentar

1 Komentar

  1. ane pernah baca, itu karena 'pulsa' listrik yang di manusia gak sebesar yang di kalulator atau alat elektronik lain gan. bener gak ya?

    BalasHapus

Terima Kasih Atas Kunjungan & Komentar Anda di Agung Blog