Nambakor, Eksotika yang terabaikan di Kota Sumenep - Agung Firdausi Ahsan

Nambakor, Eksotika yang terabaikan di Kota Sumenep

Nambakor adalah sebuah desa yang terletak di kabupaten Sumenep dan kecamatan Saronggi,
Dengan dengan garis lintang -7,05 (7 ° 2 '60 S) dan 113,85 bujur (113 ° 50' 60 E),
Disinilah tempat tinggalku sekarang, sebuah desa yang asri aman dan tentram,
Para penduduk di desa ini rata-rata mata pencahariannya adalah petani, nelayan dan peternak,
Di nambakor terkenal dengan lahan pergaraman dan tambak udang yang sangat luas terhampar di desa ini,

 

Dengan daya potensial yang ada nambakor mampu membangun desa yang sejahtera,
Penduduk disini rata-rata banyak menjadi petani karena Nambakor juga mempunyai lahan pertanian yang sangat luas terutama pertanian padi dan tembakau, untuk yang peternak mereka berternak ayam, bebek,ikan  dan puyuh, sementara sisanya menjadi petani garam dan nelayan,

 
Tidak kalah juga nilai eksotika yang dimiliki desa ini, banyak objek pemandangan yang dimiliki  desa ini terutama lahan tambak dan lahan pertanian yang hijau ketika musim padi menambah keindahan desa ini,

 

Kalau lagi bulan ramadhan banyak orang Nyare Malem(red. Ngabuburit) di lahan pertanian karena pemandangannya yang indah sambil melihat sunset di lahan pertanian garam yang luas seakan seperti disebuah pantai dan kalau kita ke utara sedikit kita menemukan sebuah pintu gerbang kota sumenep dengan sebuah tugu dengan kuda terbangnya diatasnya kita bisa menikmati pemandangan di sebelah kanan hamparan luas sawah yang hijau sementara disebelah kini kita bisa menikmati sebuah pemandangan lahan pertanian dan tambak-tambak ikan.


 













Di Nambakor terdapat beberapa pompa air  bekas peninggalan belanda yang sampai saaat ini masih terawat dan terpakai,
Pompa air tersebut yang mengairi seluruh tambak2 dan didesa ini,
Jika anda keselatan sedikit anda akan disuguhi pemandangan dikanan dan kiri anda sebuah pemandangan khas desa ini yaitu lahan garam yang sangat luas,


 
Di lahan pertanian garam kita bisa melihat sebuah guubuk-gubuk kecil dengan kincir angina di dekatnya seakan-akan kita lagi dibelanda

Pada sore hari para nelayan membawa sebuah bakul yang  berisi lampu-lampu damar,
Sesuatu yang unik karena mereka punya cara sendiri untuk menangkap ikan yaitu dengan Parayang(red. Alat untuk menangkap ikan khas Desa Nambakor),
Damar-damar tadi dimasukkan ke Parayang yang terbuat dari anyaman bambu-bambu yang dibuat melengkung,
Dengan alat ini meraka dapat menangkap ikan dengan hasil yang memuaskan walau tidak banyak.


Jika musim hujan tiba tambak-tambak tidak terpakai dan aktivitas masang parayang-pun juga terhenti,
Para nelayan banyak beralih ke mata pencaharian menggarap padi disawah,
jika musim kemarau para petani garam mulai menggarap lagi dan para petani tembakau mulai banyak menanam benih-benih,
Inilah sedikit cerita tentang desaku yang mempunyai banyak nilai eksotika tapi terabaikan.
Previous
Next Post »