Klenteng Tri Dharma Pao Sian Lin Kong, Klenteng di Sumenep - Agung Firdausi Ahsan

Klenteng Tri Dharma Pao Sian Lin Kong, Klenteng di Sumenep



Klenteng Pao Xian Lin Kong terletak di Desa Pabian, lebih tepatnya di Jalan Slamet Riyadi kira-kira 2,5 Km kearah timur dari Alun-Alun Sumenep.

Klenteng ini satu-satunya klenteng yang berada di Kota Sumenep bahkan satu-satunya klenteng beraliran tridharma di Pulau Madura. Klenteng Pao Xian Lian Kong Sumenep dibangun kira-kira 190 tahun lalu, menurut pengurus Klenteng, Klenteng ini dibangun oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan dan ditemukan bukti tentang adanya tulisan di Kimsin atau rupang Makco Thian Siang Sing Bo dalam kompleks tersebut. Kimsin dewi pelindung para pelaut itu dibawa langsung oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan ke Sumenep.

Kelenteng ini oleh masyarakat Tionghoa Sumenep merupakan wujud ungkapan syukur para perantau Hokkian yang berhasil dalam usaha perdagangan di Desa Marengan, Kecamatan Kalianget. Pada masa penjajahan Hindia-Belanda kawasan Marengan, yang berada di dekat Pelabuhan Kalianget, dikenal sebagai pusat perdagangan di Pulau Madura.

Pada Masa Lampau Rumah pemujaan untuk Makco ini menjadi jujugan orang Tionghoa di Sumenep dan sekitarnya untuk bersembahyang dan melestarikan adat-istiadat Tionghoa. Karena para etnis Tionghoa semakin banyak, maka Klenteng ini mengalami direlokasi ke daerah Pabean yang sebelumnya berdiri di Marengan. oleh seorang kapiten Tionghoa seperti yang ada sekarang. Pada tahun 1963 klenteng ini mengalami renovasi untuk pertama kalinya.

Pada Bangunan Klenteng Pao Sian Lian Kong ini terdapat tiga altar, antara lain Kongco Hok Tiek Cing Sien, Makco Thian Siang Sing Bo, dan Kongco Kong Tik Cung Ong, Klenteng ini Berdiri di atas lahan seluas 2.685 meter persegi, Klenteng Pao Sian Lian Kong ini mempunyai halaman yang luas di antara pintu gerbang dan bangunan utama. Di atas pintu utama sebelah kanan dan kiri terdapat kaligrafi dalam aksara Tionghoa (shufa). tulisan itu mempunyai makna: ‘keramatnya mendunia’ dan ‘negara dan lautan tenang’. “Kaligrafi tersebut masih asli, sekaligus jadi bukti bahwa kelenteng ini sudah berusia ratusan tahun 

Previous
Next Post »